Menarik
untuk ditelisik profil si pria yang hendak menikahi calon istrinya.
Empat jempol (plus jempol kaki saya. Hehe) saya acungkan untuk pria yang
berani menikah dalam kondisi nol bahkan minus. Delapan jempol (minjam
jempol tetangga) saya berikan pula untuk wanita yang mau- maunya
menerima pria ini dalam keadaan ikhlas lillahi ta'ala (bukan pasrah
lho). Mau menerima pinangan dan bersemangat menjalani kehidupan bersama
dari bawah sekali. Jarang- jarang ada wanita yang mau memulai kisah
awal kehidupan berumah tangga dari nol, berangkat dari ketidakpunyaan
sang calon suami. Masih ada (mungkin juga cukup banyak) wanita di luar
sana yang mau menerima calon suaminya apa adanya bukan karena ada apa-
apanya.
Ini bukan curcol saya semata lho, wkwkwk, tetapi berangkat dari pengamatan saya kepada kawan2 yang lainnya.
Menurut hemat saya, memang lebih asiik dan menantang untuk memulai
kehidupan awal dari nol. Bersama dengan istri membangun usaha, melalui
jatuh bangun usaha, saling meyemangati dan bahu membahu dalam kehidupan
berumah tangga. Alangkah indahnya ketika istri dengan mata berbinar-
binar menerima rizki dari Alloh lewat usaha kita, yang ia tahu bahwa
tidak setiap hari usaha suaminya berbuah manis. Bagaimana berhati-
hatinya sang istri tersebut mengalokasikan dana, memangkas beberapa
cabang pengeluaran, dan tak jarang menahan keinginan- keinginannya.
Mula- mula berangkat dari kondisi ketidakpunyaan itulah, ketika nantinya
pasangan tersebut sukses, maka kesuksesan yang mereka reguk bersama
akan lebih terasa.
Jika saya kaitkan dengan kesetiaan (baik dari
pihak suami maupun istri), biasanya jika dari awal sudah bersusah susah
bersama, maka kesetiaannya (seharusnya) sudah terjamin. Apabila sang
istri sudah mau dan berhasil 'dibawa' melalui fase- fase sulit,
ketangguhannya sudah teruji. Alangkah 'bodoh'nya jika mereka bercerai.
Atau mungkin justru pihak suami mendua/mentiga, dst. Ketika masa2 pahit
kita lalui bersama istri tercinta, masak tega jika kita telah berhasil,
kita tinggalkan/menduakan orang yang telah mendampingi kita di kala
kesulitan2 menghampiri. Pun begitu pula dari pihak istri. Jika sudah mau
diajak susah bersama suami dan mampu bertahan hingga berhasil, tak ayal
kesetiaan sang istri pun seharusnya tak patut untuk dipertanyakan.
Nah, menarik jika sang calon suami ini sudah sukses duluan atau dengan
kata lain sudah mapan sebelum menikah. Saya acungi empat jempol pula
bagi yang sudah mempersiapkan diri (terutama dlm hal ekonomi) untuk
mempersiapkan kehidupan berumah tangga bersama istrinya kelak. Minimal
tak kan membiarkan keluarga terkatung- katung dalam ketidakpastian
ekonomi keluarga. Hehe. Menarik pula melihat apa pertimbangan sang calon
istri memilih suami yang tipe ini (mapan sebelum menikah). Apa semata
hanya alasan asal kaya, kehidupan lebih terjamin, tidak perlu susah2?
Aih, memang kadang lebih banyak syak yang timbul pada calon istri yang
memilih kita yang sudah mapan. Ada rasa was2 jikalau kita esok
seandainya jatuh/gagal/bangkrut (semoga tidak), adakah ia masih setia
mendampingi kita? Apakah ia masih disamping kita, menemani, dan tidak
meninggalkan kita yang sedang 'kere' sekere-kerenya?
Dari hal itulah, saya membagi 2 kategori wanita yang lebih memilih pria mapan (bisa dibaca:kaya) untuk dijadikan suaminya:
1. Wanita baik2: alasan wanita tipe ini memilih pria mapan ialah kadang
tak beralasan. (Maksudnya?). Maksudnya, mereka kadang memang langsung
ketemu dengan calon yang memang mapan. Alias bejo. Bejo diketemukan dg
calon suami yg mapan. Bukan sengaja milih yang mapan lho. Atau, mungkin
mereka memang sengaja memilih yang mapan demi kehidupan calon anaknya
kelak. Wanita tipe ini tidak neko2. Sudah tahu calon suaminya
mapan/kaya, ia tidak memanfaatkannya alias tidak minta yang macam-
macam. Apalagi sebelum nikah, mana berani minta dibeliin ini itu
(padahal mungkin hanya barang murah).
2. Wanita tidak baik:
alasan wanita tipe ini memilih calon suami yang mapan ialah demi
dirinya, demi gengsi, atau demi harkat/martabat. Biasanya punya suami
kaya/mapan buat songong-songongan. " Ini lho suamiku kaya, jabatannya
Direktur di.. Punya mobil...". Nyombongnya bisa secara langsung/tidak
langsung. Sombong baik2, tersirat, maupun sombong yang keterlaluan.
Kalau mau lihat wanita seperti ini, lihat saja sebelum nikah, biasanya
sudah berani banyak minta. Belum resmi jadi suami istri saja, sudah
berani bilang "Mas,besok aku dibeliin gelang/hp/rumah itu ya.. Ya mas
ya..", " Beliin itu dong mas.. ", "Besok pokoknya harus ada pembantu.."
Atau lihat saja tongkrongannya sebelum nikah. Jika pakaiannya merk
terkenal, dandanannya wah, perawatan ini itu, krim ini itu, dll, bisa
dipastikan ini wanita tipe mahalll yang bisa menguras habis isi dompet.
Nah, hati2, biasanya wanita yang seperti ini tidak tahan uji. Besok
ketika sang suami bangkrut/miskin, biasanya wanita tipe seperti ini
tidak tahan. Karena wanita yang seperti ini maunya yang enak2 saja
seperti kondisi awal mereka berumah tangga.
Semoga pertimbangan
para wanita yang memilih calon suami (baik calon suami yg belum
mapan/sudah mapan) itu didasarkan pada pertimbangan yang baik2. Dan
untuk para pria (sekali lagi, baik yg sudah mapan/belum mapan),
hendaknya memilih istri yang baik2, enggak matrealistis.
_latihan nulis_
_dari mamas_