Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

14/12/14

Fenomena Hijab Syar'i



 
Saya mendapat sebuah tulisan apik pagi ini. Saya telusuri, ia yang mengirim tulisan tersebut ke saya, juga copas dari yang lainnya. Entah siapa pengirim aslinya.

Setelah saya baca tulisan tersebut, hikmah dan nasehat yang terkandung di dalamnya benar- benar MJJ (mak jleb jleb). Langsung mengena tepat pada sasaran. Nasehat bagus, yang mengingatkan kita tentang fenomena hijab syar'i yang kini sedang marak berkembang.

Muncul tanya dalam benak saya, apa sih niatan dan tujuan kita yang sebenarnya dalam berhijab syar'i?

Saya mengapresiasi muslimah yang alhamdulillah telah mengenakan pakaian dan jilbab yang sesuai syari'at Islam. Banyak muslimah yang awalnya  masih belum berhijab atau yang belum berhijab sempurna, yang akhirnya berhijrah untuk mengenakan pakaian yang menutup aurat sesuai apa yang Islam ajarkan. Pakaian takwa tersebut mungkin kini kita kenal dengan istilah hijab syar'i.

Lalu marilah kita tengok kembali niatan kita dalam mengenakannya. Jika sudah benar, yakni Lillah, bukan untuk pamer atau ikut- ikutan tren, maka patut kita syukuri. Saya do'akan semoga istiqomah. Tapi jika niat kita mengenakan hijab syar'i karena tren dan mode yang berkembang saat ini, hayuuk benahi niat. Berniat yang benar, agar dalam berhijab syar'i jadi lebih berkah.

Dan berhati- hatilah dengan riya'. Jangan sampai kita koleksi hijab syar'i, gonta- ganti model setiap taklim, tapi ada satu titik kecil muncul dalam hati kita. Diam- diam dalam hati, kita ingin dilihat lebih atau ingin tampil lebih dibanding yang lainnya.

Jangan lupakan kewajiban kita untuk terus meng-upgrade tsaqofah kita dalam hal agama. Jangan pula lupakan jika dalam diri muslimah itu seharusnya tercermin tawadhu dan kesederhanaan dalam keseharian. Benar, sederhanakanlah penampilan.

Semoga dengan membantu menyebarkan nasehat ini, menjadi ladang amal bagi penulis aslinya. Dan semoga bagi yang membacanya (termasuk saya), ini menjadi suatu pemantik untuk bermuhasabah diri.
 

Makasih buat yang buat dan broadcast tausiyah ini sehingga nyampe ke saya T_____T 

Copas

Hikmah Pagi Taman Surga

Alhamdulillah, hijab syar'i kini mulai semarak dan mulai menjadi trend.
Ini adalah kebaikan dan kemuliaan.


Tapi setan ga mau ketinggalan.
Dia terus berusaha tetap menyesatkan walaw hijab sdh syar'i.


Setan menumbuhkan semangat di hati para muslimah utk mengoleksi hijab syar'i dg berbagai mode.
Serta membuatnya lupa dg semangat memperbaiki akhlaq.


Setan menjeratnya dg senang menumpuk-2 pakaian dan mengurangi sedekahnya.

Setan terus menumbuhkan smngtnya utk tampil cantik dan syar'i namun melupakan diri utk menambah ilmu agama.

Belum puas dg itu, setan menyemangati agar para wanita yg berhijab syar'i utk hadir di majelis-2 ta'lim dg tujuan, memamerkan koleksi hijab syar'i miliknya.

Setan pun semakin senang karena wanita muslimah sdh melupakan ilmu tawadhu dan kesederhanaan.
Hijabnya memang syar'i tapi mahalnya ga ketulungan.


Wanita muslimah pun menabung sedikit-2 utk beli hijab syar'i, dan melupakan tabungan ke tanah suci.
Lupa menabung utk qurban bahkan mudah menabung utk beli baju drpd keluar utk sedekah.


Ketika hijab syar'i yg baru dibelinya, ada sedikit cacatnya, pikirannya resah penuh kecewa.

Setan telah membuatnya lupa dg cacat sholatnya.
Cacat sedekahnya dan cacatnya baca Qur'an.


Jika hijab syar'i yg dimilikinya memiliki keindahan sempurna, ia tdk siap menyedekahkannya
Hatinya telah menikah dg dunia dan bercerai dari Rabb-Nya.

Jika sudah demikian, masihkah punya keinginan mengoleksinya?

Milikilah hijab syar'i seperlunya.
Sederhanakanlah penampilan.
Belilah yg harganya tdk terlalu jauh dg harga kain kaffan.





Terimakasih telah berkenan mampir. Sila bisa dibaca juga tulisan saya yang lain yang berkenaan dengan hijab syar'i disini
Continue reading...

03/12/14

Yang Seiman Lebih Tenteram




Beberapa saat yang lalu berita yang sedang mencuat ialah kasus pernikahan dua orang artis yang berbeda keyakinan. Si pria (katanya) sudah masuk Islam sebelum menikah. Akan tetapi yang membuat heboh ialah setelah ia melangsungkan pernikahan, pria tersebut menyatakan bahwa dirinya tidak pernah masuk Islam. Nah loh, yang benar ini yang mana?

Disini saya tidak akan membahas beritanya. Berikut saya ambilkan petikan opini dari sebuah media cetak perihal pernikahan tersebut:

Memiliki suami yang berbeda keyakinan dengan kita (non-muslim) jelas dilarang oleh syariat. Bahkan pernikahan otomatis batal bila diketahui sang suami menjadi murtad (keluar dari Islam).
Alasan cinta tak lantas membutakan mata. Bagaimanapun, memilih lelaki yang beriman dan shalih merupakan syarat mutlak bagi seorang wanita dalam memilih suami.

Memang tak salah bila seorang muslimah meminta mahar berupa ikrar dua kalimat syahadat, bahkan hal tersebut merupakan kebaikan. Hal ini pernah dimintakan oleh Ummu Salamah ketika hendak dipinang oleh Abu Thalhah.

Namun pilihan tersebut, di zaman ini, bukan tanpa resiko. Sebab selamanya kita tidak akan bisa mengetahui pasti isi hati seseorang. Berhati- hatilah pula bisa saja itu jebakan untuk menyesatkan muslimah.


*)dari Ar- Risalah dengan sedikit gubahan


Jadi sahabat (terutama mba2) sekalian, urusan keyakinan tidak perlu di tawar2 lagi. Pilihlah yang seiman sebagai teman hidup anda. Karena yg seiman insyAlloh lebih menentramkan (seperti slogan apa gitu ya :) ).
Continue reading...

Pilih Calon Suami yang Kaya?? Silakan Dibaca...



pic source
Menarik untuk ditelisik profil si pria yang hendak menikahi calon istrinya. Empat jempol (plus jempol kaki saya. Hehe) saya acungkan untuk pria yang berani menikah dalam kondisi nol bahkan minus. Delapan jempol (minjam jempol tetangga) saya berikan pula untuk wanita yang mau- maunya menerima pria ini dalam keadaan ikhlas lillahi ta'ala (bukan pasrah lho). Mau menerima pinangan dan bersemangat menjalani kehidupan bersama dari bawah sekali. Jarang- jarang ada wanita yang mau memulai kisah awal kehidupan berumah tangga dari nol, berangkat dari ketidakpunyaan sang calon suami. Masih ada (mungkin juga cukup banyak) wanita di luar sana yang mau menerima calon suaminya apa adanya bukan karena ada apa- apanya.

Ini bukan curcol saya semata lho, wkwkwk, tetapi berangkat dari pengamatan saya kepada kawan2 yang lainnya.

Menurut hemat saya, memang lebih asiik dan menantang untuk memulai kehidupan awal dari nol. Bersama dengan istri membangun usaha, melalui jatuh bangun usaha, saling meyemangati dan bahu membahu dalam kehidupan berumah tangga. Alangkah indahnya ketika istri dengan mata berbinar- binar menerima rizki dari Alloh lewat usaha kita, yang ia tahu bahwa tidak setiap hari usaha suaminya berbuah manis. Bagaimana berhati- hatinya sang istri tersebut mengalokasikan dana, memangkas beberapa cabang pengeluaran, dan tak jarang menahan keinginan- keinginannya. Mula- mula berangkat dari kondisi ketidakpunyaan itulah, ketika nantinya pasangan tersebut sukses, maka kesuksesan yang mereka reguk bersama akan lebih terasa.

Jika saya kaitkan dengan kesetiaan (baik dari pihak suami maupun istri), biasanya jika dari awal sudah bersusah susah bersama, maka kesetiaannya (seharusnya) sudah terjamin. Apabila sang istri sudah mau dan berhasil 'dibawa' melalui fase- fase sulit, ketangguhannya sudah teruji. Alangkah 'bodoh'nya jika mereka bercerai. Atau mungkin justru pihak suami mendua/mentiga, dst. Ketika masa2 pahit kita lalui bersama istri tercinta, masak tega jika kita telah berhasil, kita tinggalkan/menduakan orang yang telah mendampingi kita di kala kesulitan2 menghampiri. Pun begitu pula dari pihak istri. Jika sudah mau diajak susah bersama suami dan mampu bertahan hingga berhasil, tak ayal kesetiaan sang istri pun seharusnya tak patut untuk dipertanyakan.

Nah, menarik jika sang calon suami ini sudah sukses duluan atau dengan kata lain sudah mapan sebelum menikah. Saya acungi empat jempol pula bagi yang sudah mempersiapkan diri (terutama dlm hal ekonomi) untuk mempersiapkan kehidupan berumah tangga bersama istrinya kelak. Minimal tak kan membiarkan keluarga terkatung- katung dalam ketidakpastian ekonomi keluarga. Hehe. Menarik pula melihat apa pertimbangan sang calon istri memilih suami yang tipe ini (mapan sebelum menikah). Apa semata hanya alasan asal kaya, kehidupan lebih terjamin, tidak perlu susah2?

Aih, memang kadang lebih banyak syak yang timbul pada calon istri yang memilih kita yang sudah mapan. Ada rasa was2 jikalau kita esok seandainya jatuh/gagal/bangkrut (semoga tidak), adakah ia masih setia mendampingi kita? Apakah ia masih disamping kita, menemani, dan tidak meninggalkan kita yang sedang 'kere' sekere-kerenya?

Dari hal itulah, saya membagi 2 kategori wanita yang lebih memilih pria mapan (bisa dibaca:kaya) untuk dijadikan suaminya:

1. Wanita baik2: alasan wanita tipe ini memilih pria mapan ialah kadang tak beralasan. (Maksudnya?). Maksudnya, mereka kadang memang langsung ketemu dengan calon yang memang mapan. Alias bejo. Bejo diketemukan dg calon suami yg mapan. Bukan sengaja milih yang mapan lho. Atau, mungkin mereka memang sengaja memilih yang mapan demi kehidupan calon anaknya kelak. Wanita tipe ini tidak neko2. Sudah tahu calon suaminya mapan/kaya, ia tidak memanfaatkannya alias tidak minta yang macam- macam. Apalagi sebelum nikah, mana berani minta dibeliin ini itu (padahal mungkin hanya barang murah).

2. Wanita tidak baik: alasan wanita tipe ini memilih calon suami yang mapan ialah demi dirinya, demi gengsi, atau demi harkat/martabat. Biasanya punya suami kaya/mapan buat songong-songongan. " Ini lho suamiku kaya, jabatannya Direktur di.. Punya mobil...". Nyombongnya bisa secara langsung/tidak langsung. Sombong baik2, tersirat, maupun sombong yang keterlaluan. Kalau mau lihat wanita seperti ini, lihat saja sebelum nikah, biasanya sudah berani banyak minta. Belum resmi jadi suami istri saja, sudah berani bilang "Mas,besok aku dibeliin gelang/hp/rumah itu ya.. Ya mas ya..", " Beliin itu dong mas.. ", "Besok pokoknya harus ada pembantu.." Atau lihat saja tongkrongannya sebelum nikah. Jika pakaiannya merk terkenal, dandanannya wah, perawatan ini itu, krim ini itu, dll, bisa dipastikan ini wanita tipe mahalll yang bisa menguras habis isi dompet. Nah, hati2, biasanya wanita yang seperti ini tidak tahan uji. Besok ketika sang suami bangkrut/miskin, biasanya wanita tipe seperti ini tidak tahan. Karena wanita yang seperti ini maunya yang enak2 saja seperti kondisi awal mereka berumah tangga.

Semoga pertimbangan para wanita yang memilih calon suami (baik calon suami yg belum mapan/sudah mapan) itu didasarkan pada pertimbangan yang baik2. Dan untuk para pria (sekali lagi, baik yg sudah mapan/belum mapan), hendaknya memilih istri yang baik2, enggak matrealistis.

_latihan nulis_
_dari mamas_
Continue reading...

Berhati- hati dengan Sifat Suka Membanggakan Diri Sendiri


pic source
Hati- hati dengan segala hal yang menyebabkan amalan- amalan yang sering kita lakukan menjadi sia- sia, serta pahala kita menjadi terhapus karenanya. Salah- salah malah membelenggu langkah ibadah kita. Salah satu hal itu ialah Ujub (bangga pada diri sendiri).

Boleh jadi kita dikaruniai kepahaman akan ilmu agama, kecerdasan, kecantikan/ketampanan, kekayaan, keshalihan, ketinggian derajat, kemahsyuran, dan beribu "kesempurnaan" yang lainnya. Kemudian kita terpesona atas apa yang kita peroleh itu. Bangga pada diri sendiri. Apalagi jika orang lain tahu (atau sengaja diberi tahu), agar mereka tahu dan kagum atas apa yang kita miliki itu. Dan lagi, dalam hati (meski kita mengingkari) muncul setitik perasaan ingin dinilai baik/istimewa oleh orang lain.

Ujub, meski itu teramat halus, tetaplah ujub. Entah itu dinampakkan dalam dunia nyata maupun dunia maya. Jika di dunia nyata, terlihat jelas bagaimana cara seorang yang berlaku ujub itu berbicara, berbusana atau berperilaku. Akan nampak oleh penglihatan kita. Ada pula yang halus, tidak nampak secara lahiriah, tapi ternyata di dalam hati ia telah berlaku ujub. Lantas bagaimana dengan dunia maya?

Hampir sama dengan di dunia nyata. Ada perilaku ujub yang terang- terangan atau yang sangat halus. Dalam dunia maya, meskipun hanya update status atau upload foto, kita perlu berhati-hati akan perasaan bangga akan diri sendiri. Seringkali update status tapi di dalamnya mungkin tersirat bahwa "ini lho saya itu shalih, saya itu punya rumah mewah, saya itu punya mobil, saya itu punya istri shalihah dan cantik, saya itu....... ". Itu baru yang tersirat.

Ada lagi yang terang- terangan bangga atas apa yang kita punya. Sering terlontar sanjungan akan diri/pasangan/keluarga, agar orang lain kagum. Atau sering pula apa yang kita miliki (yang membuat kita bangga) terpampang pada layar facebook/twitter agar setiap orang memberi komentar dengan takjub atau minimal memberi jempol.

Berhati- hatilah.
Jangan sampai ujub (bahkan yang tetamat halus pun) menggelincirkan kita.

Rosulullah SAW bersabda, "Adapun tiga hal yang membinasakan itu adalah kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujub (kekaguman) seseorang terhadap dirinya sendiri." (HR. Ath-Thabrani)

Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib: "Dan berhati-hatilah engkau dari sifat ujub dan berbangga kepada dirimu sendiri, dan percaya terhadap hal- hal yang membuatmu kagum dari padanya serta cinta menampakkan diri, karena hal itu adalah merupakan kesempatan yang paling baik bagi setan dengan dirinya untuk menghapuskan segala perbuatan- perbuatan atau kebaikan- kebaikan orang yang berbuat baik"

Wallahu a'lam bish-shawab.

.:: Ahh, duhai diri yang masih perlu banyak belajar ::.
Continue reading...

07/07/14

(Mungkin ini) Tips Jitu alias Cara Cepat Dapat Jodoh


Postingan kali ini sedikit banyak (dikit aja deh) mengulas tentang jodoh.

Taraa.. tema kali ini adalah "(Mungkin ini) cara cepat dapat jodoh". Hehehe. Sebenarnya sih nggak ngulas2 amat. Mungkin lebih tepatnya kasih saran kali ya. :D

Tadi mau bahas apaan ya?
O iya, tentang jodoh.. ;)

Sensitip bener kan postingan kali ini. *evil smile*

Siapa yang bakalan tahu jodohnya itu siapa?
Ayo, angkat kaki, eh, angkat tangan. Ngangkatnya jangan kebangetan ye tingginya. Bau soalnya. Piss..

(Harusnya) Pasti nggak ada yang angkat tangan alias nggak tahu.
Why?
Karena sudah jelas, jodoh itu rahasia Alloh. Hanya Alloh yang tahu pasti siapa jodoh kita.


Nah, back to the topic, ini saya kasih dah resep/jurus/kiat/cara/tips/whatever lah namanya untuk cepat dapatkan jodoh.


Dan semoga kedepannya nggak ada lagi do'a- do'a seperti di bawah ini:





Takutnya nih jika terus menerus berdo'a seperti itu maka yang terjadi akan seperti ini:


Hehehe. Nggak mau kan kayak gitu. Nih, tips ala saya supaya cepat dapat jodoh (insyaAlloh):

1. Tentukan kriteria untuk menentukan pasangan kita
Silakan membuat kriteria sebagai tolok ukur dalam memilih pasangan. Mengapa ini diperlukan? Supaya kita tidak bingung dan kelimpungan ketika sudah dikasih proposal. Kalau sudah menetapkan standar dari awal, tentu akan lebih mudah dalam menimbang- nimbang. Tapi juga jangan terlalu sak-klek juga ya. Jika terlalu pemilih, jangan kaget jika tiba- tiba usia sudah kepala tiga.

Yang pasti, jika anda pria, maka kriteria dalam memilih istri ialah yang sholehah, yang sesuai apa yang disabdakan Baginda Nabi Muhammad SAW. Nabi bersabda:"Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita (isteri) yang sholehah”. Beliau juga bersabda, ”Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.”

2. Perbaiki hubungan kita dengan Alloh, keluarga, tetangga, teman, dan yang lainnya
Coba kita cek hubungan kita dengan Alloh. Dengan cara apa? Cek ibadah kita. Sholat lima waktu kita bolong- bolong nggak. Membaca Al- Qur'an rutin tidak. Rajin bersedekah atau malah pelit bin medit bin cethil. Ada yang tahu bahasa cethil atau medit? Hehehehe.

Tambah dong ibadah sunnah lainnya. Shaum senin kamis, sholat dhuha, tahajud, dan yang lainnya.

Cek hubungan dengan keluarga, tetangga, dan teman. Silaturahim jalan nggak. Jangan sampai kalau ketemu malah langsung nglengos.

3. Banyak- banyak muhasabah diri dan segera perbaiki diri menjadi lebih baik
Tengoklah ke dalam diri masing- masing. Ada sifat burukkah dari diri kita yang menghalangi hubungan kita dengan Alloh maupun sesama. Misal: dengki/iri, hasud, riya', malas beribadah, dan lain sebagainya.

Yuk, reduksi sifat- sifat jelek dari dalam diri. Gantilah dengan sifat- sifat yang baik. Seperti rajin membantu, rajin nabung, rajin sedekah, rajin ngepel, nyuci piring. :D

Perbaiki diri dengan membiasakan diri dengan sifat baik. Aura kebaikan pasti akan terpancar dari dalam diri. Lalu diri kita bersinar dan cling cling. Hingga yang melihat harus pakai kacamata hitam dan berkata "Silau mamen.. " Nggak.. maksudnya, sifat yang baik yang tertanam dalam diri pasti akan membawa aura positif.

4. Banyak- banyak membuat kebaikan seperti membantu orang- orang yang kesusahan
Seperti bunyi hadits berikut ini: 
"wawloohu fii awnii abdi ma kanal abdu fii awni akhiihi,"
"Alloh selalu berkenan membantu hamba-Nya selama hambaNya berkenan membantu saudaranya."

5. Tidak mudah putus asa, selalu berusaha, dan siap dengan ketentuan Alloh untuk kita
Dapat quote seperti ini:
Jodoh tidak akan lari dan akan datang pada waktunya. Bersabarlah dan sibukkan diri dengan amal sholeh. Hadapilah dengan sikap tenang, santai, tidak mudah emosi/sensitif, tidak larut dalam kesedihan, tidak berputus asa dan tetap bersemangat.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin. Segala keadaan dianggapnya baik, dan hal ini tidak akan terjadi, kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu tetap baik baginya dan apabila ditimpa penderitaan ia bersabar maka itu tetap baik baginya.” (HR Muslim)


Nah, gaes, itu beberapa diantaranya tips jitu untuk mendapat jodoh.
Selamat mencoba dan berusaha senantiasa.
Dan tetap mengingat bahwasanya jodoh itu rahasia Alloh. Siapa dan kapan datangnya hanya Alloh yang tahu dan lebih tahu yang terbaik untuk kita.

Semangat :)
Continue reading...

20/06/14

Kunci Sukses Berbisnis/Berdagang ala Rasulullah SAW



9 dari 10 pintu rezeki ada dalam berdagang

Sudahkah anda berbisnis hari ini? :)
Ya, pekerjaan adalah suatu pilihan. Apakah ingin menjadi PNS atau pengusaha juga sebuah pilihan. Semua kembali ke pribadi masing- masing.

Namun jika menilik kalimat 9 dari 10 pintu rezeki ada dalam berdagang, maka bukantah sebaiknya kita mencoba melakoni profesi sebagai pedagang atau pengusaha saja? Jika sekarang ini anda adalah pengusaha/pedagang, maka saya ucapkan Selamat. Tapi kalau anda sekarang sudah jadi PNS, nggak ada salahnya juga lho untuk mencoba berdagang*ngomporin PNS* :D

Nah, dalam berdagang pun ada seni di dalamnya. Bagaimana menjadi pedagang yang jujur, adil, pun ada trik atau kuncinya. Dan ada seseorang (yang amat mulia) yang telah memberikan kita kunci sukses dalam berbisnis. Siapa lagi pedagang yang patut kita jadikan contoh? Siapa lagi pedagang yang  memiliki kiat yang tidak hanya menyukseskan penjual tapi juga memuliakan pembeli?

Dialah Rasulullah SAW

Seperti yang telah kita ketahui, Rasulullah adalah sesosok manusia yang komplit. Selain sebagai seorang nabi dan rasul, beliau juga adalah seorang kepala negara yang baik, panglima perang yang kuat dan tangguh, serta seorang entrepreneur yang yang sukses dan disegani.

Permasalahan yang pernah dihadapi oleh Muhammad SAW saat itu sebenarnya sama dengan permasalahan yang sering dihadapi pengusaha- pengusaha di jaman sekarang. Ialah Keterbatasan Modal. Rasulullah pun pernah mengalaminya.

Akan tetapi berdagang adalah seni. Modal sebenarnya ialah jujur dan adil dalam menjalani transaksi. Kejujuran dan keadilan yang bisa kita contoh dari beliau, insyAlloh tak hanya membuat kita untung besar tapi juga menggapai kebarokahan rezeki dari Alloh SWT. “Yang menjadi number one capital dalam bisnis ala Rasulullah adalah kepercayaan (trust) dan kompetensi,” kata pakar ekonomi syariah, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec.

1. Jujur
Muhammad SAW memiliki sebuah gelar yakni Al- Amin (yang dapat dipercaya). Gelar tersebut bukan hanya menjadi sebuah gelar biasa. Sifat Al- Amin menjadi sifat Rasulullah yang paten dan tercermin dalam kesehariannya, begitu pula dalam hal berdagang.

Ketika beliau menjadi agen Khadijah ra (yang lalu kelak menjadi istrinya), beliau sangat jujur. Pun begitu juga kepada pelanggannya. Beliau menjelaskan keunggulan serta kekurangan dari produk yang dimiliki. Kejujuran menjadi brand dari Rasulullah. 

Bagi Rasulullah, meski mendapat keuntuntungan besar tapi tak jujur, maka perlahan tapi pasti kegagalan akan menghampiri. Rasulullah sangat memperhatikan aspek kejujuran dalam berdagang. Sampai- sampai orang yang jujur dalam berdagang digaransi masuk dalam golongan nabi. 

Abu Sa’id meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, “Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukkan dalam golongan para nabi, orang-orang jujur dan para syuhada.”

Begitulah seharusnya kita sebagai pedagang. Apalagi di era keterbukaan kini. Praktek-praktek perdagangan yang mengandung unsur penipuan, riba, judi, ketidakpastian dan meragukan, eksploitasi, pengambilan untung yang berlebihan dan pasar gelap benar- benar sedang merajalela. Begitu banyak tantangan yang kita hadapi kini. Untuk menghadapinya dan agar tak terjerumus dalam perdagangan yang curang, sudah seharusnya kita mencontoh pribadi Rasulullah dalam menjalankan suatu usaha.

Di sekitar kita masih banyak pedagang (semoga bukan termasuk kita) yang tidak jujur dalam menyampaikan produk yang di jual. Barang KW dibilang bagus, barang dipreteli dulu sebelum dijual (diambil bagian yang bagus untuk ditukar dengan yang lebih jelek), barang dioplos dengan yang kualitasnya rendah, dan sebagainya. Mereka (yang curang) seolah tidak peduli dengan kerugian yang nantinya menimpa pembeli.

Hal- hal curang tersebut yang akan mengurangi kebarokahan rizki penjual. Padahal kejujuran dan keterbukaan Rasulullah dalam transaksi perdagangan sudah seharusnya menjadi teladan bagi para pengusaha. Kejujuran dan keterbukaan menjadi modal utama dan terbesar agar sukses berbisnis seperti Rasulullah.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda
من غشنا فليس منا
“Barang siapa yang mencurangi kami, bukan dari pengikut kami” (HR. Muslim)

2. Bersikap baik kepada pembeli
Rasulullah sangat baik kepada pembeli. Benar kata pepatah bahwa pembeli adalah raja. Rasulullah benar- benar melayani pembeli dengan baik dan sepenuh hati. Beliau sampai tak rela jika pembeli sampai dirugikan karena ulah penjual.

Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, “Rahmat Alloh atas orang-orang yang berbaik hati ketika ia menjual dan membeli, dan ketika dia membuat keputusan.” (HR Bukhari).

Bersikap baik kepada pembeli merupakan suatu sikap yang mulia. Jangan sampai pedagang sampai menyakiti hati bahkan sampai mendzalimi pembeli. Nggak mau kan didoakan yang nggak- nggak sama pembeli yang kecewa. Naudzubillah..

Bersikap baik kepada pembeli meliputi memberikan pelayanan yang baik, memberikan produk yang sesuai dengan yang ditawarkan ke pembeli, serta hindari bersumpah palsu dalam menjual barang serta untuk membela diri jika ada masalah dengan pembeli.

Seperti contoh berikut ini:
"Sumpah demi anak dan istri saya, saya ini jualan jujur lho Mas/Mba. Barang ini memang bagus... bla bla bla..."
"Sumpah demi keluarga saya, saya tuh selalu baik kepada pelanggan. Jika pelanggan baik maka saya akan 1000 kali lebih baik..."

Hindari bersumpah seperti hal di atas. Apalagi jika sumpahnya sumpah palsu hanya untuk menarik atau menyelesaikan masalah dengan pelanggan. Pelanggan yang cerdas tentu melihat kalimat di atas seperti laiknya kalimat alay dan nampak penuh kebohongan. Sekali lagi hindari bersumpah palsu demi mengelabuhi konsumen.

Tentang hal ini, nasehat Rasulullah, “Hindarilah banyak bersumpah ketika melakukan transaksi dagang, sebab itu dapat menghasilkan penjualan yang cepat, lalu menghapuskan berkah.” Nabi sangat membenci orang-orang yang dalam dagangnya menggunakan sumpah palsu. Beliau mengatakan, pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan berbicara, melihatpun tidak kepada orang yang semasa hidup berdagang dengan menggunakan sumpah palsu.
 

3. Memenuhi hak pembeli
Rasulullah selalu memenuhi hak pembeli. Beliau selalu memberikan produk pada pembeli sesuai dengan apa yang beliau tawarkan. Barang bagus/buruk ya dikatakan apa adanya dan dijual sesuai kualitas barang tersebut. Hal tersebut dilakukan agar tercapai kepuasan pelanggan dan agar tidak mengecewakan pelanggan.

Pemberian barang sesuai waktu yang telah disepakati juga menjadi salah satu hal dalam pemenuhan hak pembeli. Jangan sampai pembeli merasa dikecewakan karena barang berlarut- larut tak diserahkan kepadanya. Apalagi jika pembeli sudah membayar lunas tapi barang yang ia beli tak kunjung sampai kepadanya. Bisa jadi pembeli lalu kapok dan tak mau lagi membeli/berlangganan kembali.

Prof. Afzalul Rahman dalam buku Muhammad A Trader, mengungkapkan :
Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang yang jujur dan adil (fairplay) dalam membuat perjanjian bisnis dan tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh (komplain). Beliau selalu menepati janjinya dan dalam menyerahkan/mengirimkan barang-barang pesanannya selalu tepat waktu dan tetap mengutamakan kualitas barang yang telah dipesan dan disepakati sebelumnya. Dalam berperilaku bisnis Beliau selalu menunjukkan rasa penuh tanggung jawab dan memiliki integritas yang tinggi di mata siapapun. Reputasi beliau sebagai seorang pedagang yang jujur dan adil telah dikenal luas sejak beliau masih muda.
 
 
Begitulah beberapa hal yang Rasulullah tinggalkan kepada kita para ummatnya dalam hal berdagang/berbisnis. Sudah seharusnya kunci yang beliau tinggalkan bukan hanya menjadi sebuah kenang- kenangan belaka atau malah terlupakan. Sudah seharusnya kunci tersebut kita gunakan sebagai pegangan dalam berdagang.
 
Jika hal tersebut dapat dilakukan oleh semua pedagang, tentu tak ada kisah cyber crime, pedagang membawa lari uang pembeli, pembeli kecewa dan kapok membeli lagi, praktik curang di berbagai pelosok negeri, dan sebagainya.
 
Semoga kita senantiasa berpegang pada apa yang dicontohkan Rasulullah. Dan semoga Alloh senantiasa menunjukkan jalan yang benar bagi kita para pedagang/pengusaha/pebisnis. Aamiin.. :)


Continue reading...

Di Antara Sifat- Sifat Buruk Manusia: Jangan Sampai Kita Terlena




Sering mengeluh
Ingin pamer
Sok tahu
Merasa benar sendiri
Tak mau mengalah dan nggak mau kalah
Senang akan hal yang bersifat keduniawian (harta,dll)
Nggak suka kalau orang lain beroleh suatu kesenangan
Sulit berbagi dengan orang lain (alias pelit)

Ahh, begitulah tabiat manusia.
Dari kita semua pasti punya salah satu, dua, atau beberapa sifat di atas.
Akan tetapi, sejauh manakah kita mampu untuk menghilangkannya?
Kita harus mampu untuk mereduksi sifat buruk tersebut.
Kontrol dan mulailah untuk dihilangkan.
Asal disiplin, sedikit- sedikit lalu lama- lama kita akan terbiasa dengan sifat dan sikap yang lebih baik. :)
Jangan sampai, ketika melihat orang lain mendapat nikmat yang sama atau lebih baik dari kita, lalu diri kita menjadi panas. Merasa tersaingi. Dan tak mau kalah. Bahkan sampai hati malah mencari celah keburukan/ cacat dari kesenangan itu. Lalu kita sampaikan kejelekannya ke orang tersebut, demi menurunkan rasa senangnya.

Jangan sampai, ketika orang lain mendapat suatu kesenangan, bukannya kalimat selamat/turut berbahagia yang kita ucapkan pada mereka. Malah kalimat ejekan/hinaan atau sikap meremehkan yang kita perlihatkan. Atau prasangka buruk yang kita kedepankan. Jangan sampai.

Jangan sampai, kita merasa menjadi orang yang paling benar diantara yang lainnya. Pendapat orang lain kita tampik. Ide orang lain kita tolak. Jangan sampai diri ini diberi label "si anu yang keras kepala", "si yang sulit diberi masukan", atau "si.. si.. yang lainnya".

Jangan sampai, kita menjadi orang yang perhitungan sekali kepada orang lain. Kikir, pelit, bakhil, memegang harta terlalu erat dalam genggaman, atau apapun itu namanya. Mengapa kita sukar berbagi dengan orang lain? Mana yang lebih kita pilih dan kejar, harta atau pahala?

Jangan sampai, harta kita jadikan satu- satunya (hal utama) tolak ukur keberhasilan suatu kehidupan. Suka melihat siapa- siapa saja yang berhasil dalam hal keduniawian. Suka sekali bercerita tentang harta, harta, dan harta. Orang lain yang tiada berharta atau berada di bawah diri kita status ke-"harta"-annya, maka kita anggap ia gagal. Bahkan lebih parah, lalu kita remehkan dan tertawakan mereka. Naudzubillah...

Jangan sampai, kita mendongak terus ke atas tanpa sedikitpun melihat ke bawah. Mengapa enggan untuk melihat orang- orang yang nasibnya tak seberuntung kita? Dengan melihat ke bawah, mengajarkan kita untuk lebih bersyukur dan lebih arif memaknai hidup.

Aih jangan sampai, ketika kita melakukan sesuatu, inginnya dilihat orang lain. Kita bangga jika tampak wah dan serba lebih (bahkan terkadang sampai berlebihan dan cenderung dipaksakan. Ingin sekali pamer kepada orang lain, tapi akhirnya "dedel duel" karena terlampau berlebihan. Mengapa kita ingin sekali terlihat lebih di mata manusia? Paling baik jika kita berlomba- lomba untuk terlihat baik di hadapan Tuhan.

Dan jangan sampai, semua tabiat buruk di atas, ada semua dalam diri kita. Jangan sampai. Ahh, jangan sampai satu atau dua sifat tersebut kita pelihara terus menerus sampai nanti. Apalagi jika semua tabiat itu ada di dalam diri.

Jangan sampai orang lain yang justru lebih tahu dan paham akan sifat buruk yang ada pada diri kita. Jangan sampai orang lain terugikan karena tabiat buruk kita. Jangan sampai.

Semoga saya, anda, dan sahabat semua terhindar dari sifat buruk di atas. Jikalau ada, maka jangan dipelihara. Buang semua sifat/tabiat buruk, dan gantilah dengan menebar kebaikan.
Salam syuupeerr... ^_^


Continue reading...

01/04/14

Yeayyy, Sejarah April Mop!




Tanggal 1 April baru saja kita lewati. Adakah yang spesial dari tanggal itu?
Ya, ada. Banyak yang menyebut tanggal 1 April sebagai April Mop atau dikenal juga dengan April's Fool Day.

Pada hari itu, orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap keluarga, musuh, teman, bahkan tetangga dengan tujuan mempermalukan orang-orang yang mudah ditipu. Di beberapa negara seperti Inggris dan Australia serta Afrika Selatan, lelucon hanya boleh dilakukan sampai siang atau sebelum siang hari. Seseorang yang memainkan trik setelah tengah hari disebut sebagai "April Mop". Namun di tempat lain seperti Kanada, Prancis, Irlandia, Italia, Rusia, Belanda, dan Amerika Serikat lelucon bebas dimainkan sepanjang hari. Hari itu juga banyak diperingati di Internet. (sumber: disini)

Tapi tahukah sahabat sekalian, peristiwa apa yang melatarbelakangi di rayakannya April Mop setiap tanggal 1 April setiap tahunnya?
Let's check this out...

Sejak Spanyol dibebaska oleh panglima Thariq bin Ziyad pada sekitar abad ke-8 M, Spanyol menjadi negara yang makmur. Islam bahkan sampai berkembang hingga Perancis dan penduduknya pun tanpa paksaan banyak yang memeluk Islam. Hal tersebut merisaukan beberapa kalangan yang notabene negara tetangga di Spanyol. Mereka yang tak suka Islam berkembang akhirnya menemukan cara untuk menaklukkan Islam. Bagaimana caranya? Mereka akan melemahkan iman umat muslm mellui serangan pemikiran dan budaya.

Mereka mulai mengirimkan alkohol ke Spanyol. Kemudian musik dijadikan senjata untuk melemahkan pemuda muslim. Musik diperdengarkan agar mereka menjadi malas membaca Al- Qur'an. Ulama palsu dikirimkan untuk memecah belah umat Islam Spanyol. Dan beberapa upaya yang lainnya.

Lalu lama kelamaan cara yang mereka tempuh ini membuahkan hasil. Spanyol akhirnya jatuh dan bisa dikuasai oleh kerajaan Spanyol yang terdahulu. Dan perlu dicatat, pembantaian terjadi dimana- mana. Tidak hanya pasukan Islam yang menjadi korban, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak- anak, dan orang tua. Tragedi in bertepatan dengan tanggal 1 April. Yang lalu banyak dari kita yang masih memperingatinya sebagai April Mop (April's Fool Day).

Para sejarawan mengatakan bahawa April Mop sebenarnya adalah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat muslim Spanyol oleh tentara Spanyol. yang mana cara yang digunakan ialah lewat cara penipuan. Nah, makanya dalam perayaan April Mop selalu identik dengan penipuan atau kebohongan walau itu sekedar keisengan saja.

Tapi ada pula sejarawan yang mencatat bahwa April Mop ada sejak tahun 1582. Saat itu Paus Gregorius XIII memerintahkan penggantian kalender Julian. Namun banyak orang Eropa yang tidak mengetahui perubahan itu dan terus merayakan Tahun Baru pada tanggal 1 April.

Gimana, gimana?
Mungkin alangkah lebih baik jika kita tidak turut merayakannya. Mengapa?
1. Tradisi April Mop bukan tradisi kita.
2. Kalau yang kita usili malah tambah bete, terus ujung- ujungnya marah beneran gimana hayo? Malah memutus persahabatan/persaudaraan kan? hihihi.

Jadi,...........
(silakan disimpulkan sendiri ya) :)
Continue reading...

29/03/14

Waspada Jebakan Jilboob


Terus terang baru kemarin saya mendapati istilah plesetan jilbab terbaru – menjadi jilboob. Awalnya saya membaca ada sebuah kover buku baru yang berjudul “Jilbab Bukan Jilboob”. Saya menjadi penasaran, apa sih jilboob itu ? Betapa terkagetnya saya ketika saya mengetik di google bahwa jilboob adalah salah satu halaman Facebook yang berisi foto-foto perempuan muda, juga ibu-ibu muda yang cantik dan lumayan cantik, berderet-deret dengan mengenakan jilbab. Tapi (maaf) mereka memakai baju ketat dan celana ketat. Mulai pose biasa saja, sampai pose yang menantang dari depan, samping, bahkan ada yang dari belakang. Mungkin ada ratusan foto yang terpampang di sana. Saya tidak sempat menghitung detailnya. Dan ternyata foto-foto tersebut adalah foto curian. Bahkan mungkin yang bersangkutan tidak tahu bahwa foto-foto mereka ada di sana. Foto-foto tersebut disalahgunakan oleh admin (pemilik) akun tersebut. Setelah saya coba telusuri lebih lanjut, Fanpage facebook tersebut ternyata dipakai untuk mempromosikan situs porno dan gambar-gambar bernuansa pornografi. Naudzubillahminzalik. Coba tengok berapa banyak likers (yang menyukai) halaman tersebut, sangat mencengangkan. Hampir 25000 likers sudah memberikan jempolnya. Artinya sudah lebih dari 25 ribu orang melihat halaman tersebut. Bukan tidak mungkin saudara kita atau bahkan orang yang terdekat kita yang fotonya terpampang di sana. 

Trend yang tidak dibarengi dengan Ilmu pengetahuan
Banyaknya toko jilbab, butik jilbab sampai toko jilbab online, memberikan banyak pilihan model untuk remaja dan para ibu dalam memadukan baju yang dipakai dengan penutup kepala tersebut. Trend ini menggembirakan, mengharukan, sekaligus mengkhawatirkan. Mengapa? Karena trend ini menjadi sebuah kebanggaan menjadi muslimah, sekaligus menyedihkan bagi kaum muslimah sendiri. Bayangkan, di saat jilbab menjadi trend, tapi tidak dibarengi dengan ilmu yang benar tentang bagaimana berjilbab yang benar. Berjilbab yang syar’I sesuai dengan tuntunan agama. Yang ada malah cemoohan dari agama lain. Ini bukan rasis , tapi memang kenyataan yang ada di sekitar kita. Banyak remaja putri, bahkan ibu-ibu muda dan setengah tua, masih juga berjilbab, tapi dengan tetap mempertotonkan lekuk tubuhnya yang aduhai . Baju ketat dengan celana panjang ketat. Bahkan yang lebih mengerikan dengan memakai warna yang persis seperti warna kulit. Miris sekali melihat pemandangan yang seperti itu. Apa artinya memakai kerudung, kalau bagian tubuh yang lain terbuka?

Kasus Pencurian Foto yang marak
Jangan salah, kejahatan memang terjadi di mana saja. Bisa di dunia nyata atau dunia maya. Bagaimana perasaan kita para perempuan, ketika anak-anak kita berpose di sebuah halaman yang menyajikan situs porno dan halaman yang berbau pornografi? Atau kita tidak sadar bahwa foto-foto kita sendiri ada di sana? Wow ! Menyenangkan hati? Atau sebaliknya mengiris nurani? Kalau kita malah bangga foto-foto kita di mana-mana dan menjadi terkenal, seharusnya otak kita perlu di periksakan ke dokter kejiwaan atau psikolog.
Kasus pencurian foto memang sedang marak, dan pelakunya gampang-gampang susah untuk di ciduk. Karena mereka (pasti) tidak memperlihatkan foto pribadi, bahkan alamat dan identitas asli. Mengapa perempuan dengan memakai jilbab sebagai sasaran? Bukankah perempuan cantik dan seksi masih banyak ? Alasan saya pribadi, justru para lelaki suka dengan perempuan yang kelihatannya malu-malu, tapi ternyata tidak malu mempertotonkan bagian tubuhnya yang lain kepada public. Dengan enjoynya berfoto dengan beberapa teman atau foto selfie dengan pose yang menantang. Itulah yang membuat orang tertarik dan penasaran dengan sosoknya. Membuat para mata-mata lelaki menjadi liar.
Lalu, apa yang selanjutnya terjadi , bisa di tebak ketika foto-foto tersebut tersebar di dunia maya. Banyak komentar-komentar yang bermunculan.. Mulai komentar biasa sampai yang luar biasa (seronok). Akankah kita rela anak-anak perempuan kita yang seharusnya kita jaga auratnya , menjadi santapan mata-mata liar di dunia maya? Menjadi magnet penarik untuk mata-mata jahat yang akan terjerumus ke lembah dosa?

Tanggungjawab Orangtua
Dunia maya memang menghanyutkan. Pemilik Akun Facebook di Indonesia naik tajam dari tahun ke tahun.Saat ini sudah menduduki peringkat ke dua dunia jumlah pengguna facebook. Lebih dari 35 juta orang memiliki akun social media tersebut. Di Inggris dan Amerika rata-rata pengguna Facebook berusia 31 tahun, namun di negara seperti India, Filipina, dan Indonesia rata-rata usia 20 tahunan. Bahkan anak-anak SD dan SMP sudah bermain facebook. Dan parahnya, banyak dari orangtua yang tidak peduli dengan mainan mereka ini yang berorientasi dengan media social, artinya berhubungan dengan orang lain (orang yang tidak di kenal sekalipun). Tidak jarang muncul kasus pencurian anak dan pemerkosaan karena facebook. Dampak-dampak tersebut sangat sulit dikendalikan. Kecuali dengan benteng dan prinsip yang kuat oleh anak-anak. Jiwa labil remaja dan anak-anak sangat rentan untuk menjadi korban penipuan. Bahkan para ibu muda juga sering menjadi korban penipuan berkedok seorang tentara bule. Apakah kasus tersebut kurang menjadi bukti kejahatan yang marak di internet?
Perhatian orangtua sangat di butuhkan dalam hal ini. Sebaiknya memang orangtua punya juga akun facebook untuk memantau segala aktivitas anak-anaknya. Bukan untuk mengomentari segala bentuk update status anaknya. Tapi hanya untuk mengikuti trend yang sedang terjadi pada anak-anak. Dan trend itu bisa menjadi satu topic diskusi yang menarik untuk orangtau dan anak. Ini positif sekali untuk saling mendekatkan hubungan antara anak dan orangtua yang gaul. Dan tentu saja akan bisa mengingatkan dengan baik segala bentuk sikap, tingkah laku , maupun penampilan anak kita yang kurang sopan dan kurang baik. Bahwa mereka berada dalam media social yang rentan penipuan dan penyalahgunaan foto. Kita berikan info yang membuat mereka lebih menghargai diri sendiri dan respect kepada orang lain. Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban segala bentuk penyalahgunaan foto dan informasi pribadinya.

Berjilbablah yang benar
Kerudung dan jilbab adalah alat untuk menutup aurat perempuan muslim. Apakah warna warni yang menarik dan model yang up to date akan menjamin penampilan kita sesuai agama? Sama sekali tidak menjamin. Lalu apa yang menjamin penampilan kita baik di pandang menurut manusia dan menurut agama? Tak lain adalah ilmu pengetahuan. Ilmu tentang berjilbab yang benar, sudah sering kita dengar dalam pengajian- pengajian, kita baca dalam buku-buku populer. Tapi masih saja kita melanggarnya dengan mudah dan tidak punya malu. Padahal “Malu adalah sebagian dari iman”. Tanamkan perasaan malu kepada anak-anak, ketika mereka tidak berpakaian yang sesuai dengan tuntunan agama. Perasaan malu tersebut harus di tanamkan sesuai porsinya , sesuai situasi dan kondisi yang benar. Anak-anak yang punya prinsip kuat sejak dini, akan mempunyai pegangan hingga dewasa. Terutama pergaulan yang benar dan gaya hidup mereka yang terjaga.
Semoga anak-anak kita bisa menjaga diri ketika jauh dari orangtua. Dan masih terus mempunyai malu dengan memakai jilbabnya untuk meraih surgaNya. Aaminn.


Sumber: disini


Continue reading...

28/03/14

Menikah Kok Diam- Diam?




Bulan- bulan tertentu biasanya identik dengan yang namanya pernikahan. Contohnya seperti bulan Syawal. Undangan jagong manten biasanya bejibun. Tiap pekan pasti ada jadwal kondangan. Bahagia, sudah pasti. Karena banyak kawan yang sudah menggenapkan setengah dien. Teriring do'a untuk keluarga baru mereka. Sakinah mawaddah wa rahmah full barokah till Jannah. Aamiin. :)

Temen SMP, SMA, dan kuliah banyak yang udah nikah. Baik yang ngundang- ngundang ataupun diam- diam. Yang nikahnya diam- diam, kalau beberapa saat kemudian kita mendengarnya dari dia atau orang lain, seringnya kita pasti bilang, "Hah, udah nikah?? Lho kok nggak undang2..."

Ada 3 kemungkinan mengapa kita nggak tahu jika salah satu teman menikah:
  1. Undangan nggak sampai ke kita
  2. Emang dari sononya kita nggak diundang. Muehehehe
  3. Dia memang menikah diam- diam tanpa ada pesta resepsi alias walimahan. Jadi cuma akad aja. Itupun terbagi menjadi dua macam lagi yakni: nikah yang dicatatkan di KUA, ataupun tidak (nikah siri).
Postingan ini akan ngebahas yang poin ke-3, yakni pernikahan yang dilakukan diam- diam (baik nikah siri atau yang sah menurut undang- undang). Pernikahan diam- diam ini biasanya yang ikut mrnyaksikan ialah keluarga atau kerabat dekat saja. Tanpa undangan ke teman kantor, sekolah, dan mungkin juga tetangga.

Mengapa sih pernikahannya dirahasiakan?
Menurut saya nih ada beberapa faktor, diantaranya:
  1. Mungkin ia adalah seorang publik figur. Ada hal tertentu yang membuat pernikahannya tidak disiarkan. Ia takut jika karirnya turun (apalagi jika sedang naik daun) jika ada pemberitaan tentang dirinya yang telah menikah.
  2. Takut. Ya, takut saja. Takut ketahuan istri pertama jika ia menikah lagi. Hihihi. Padahal demi kemaslahatan dan kebahagiaan keluarga, seharusnya seorang pria yang berniat menikah lagi, harus memberi tahu istri- istrinya (dalam hal ini termasuk istri pertama). Syarat berpoligami ialah adil. Bagaimana seorang suami bisa adil kepada istri- istrinya jika hubungan kepada salah satu/beberapa istri dilakukan dengan diam- diam. Takut yang kedua yakni takut dipecat dari pekerjaan. Bisa jadi ia berstatus pegawai negeri yang notabene nggak boleh nikah lagi. Atau ia memiliki kontrak kerja dengan perusahaan yang mengharuskan ia tak boleh menikah dulu.
  3. Malu. Malu karena masih kuliah (belum ada gelar yang dicantumkan di undangan), malu karena (maaf) hamil di luar nikah, ataupun malu karena nggak punya banyak modal untuk nikah. Nggak punya banyak modal jadi nggak bisa ngadain pesta mewah atau ngundang banyak tamu.  Kalau yg ini mah (malu nggak punya modal banyak) orang yang tipenya gengsian.
Aih, mengapa musti takut untuk mengabarkannya kepada orang banyak? Menurut saya sebuah pernikahan ya harus dikabar- kabarkan (disyiarkan) kepada orang lain. Entah ia seorang publik figur, masih berstatus mahasiswa, ataupun jika ia menikah lagi. Ketika ada kasus tertentu, seperti misalnya (maaf) kehamilan di luar nikah, mungkin akan ada pembicaraan internal keluarga terlebih dahulu mengenai pernikahan yang akan dilangsungkan.

Tapi nih, intinya jika itu kabar baik, sebaiknya disiarkan pernikahnnya. Dengan cara apa? Walimah. Atau istilah khususnya yakni makan- makan dalam pesta pernikahan/resepsi.

Rasulullah Saw bersabda kepada Abdurrahaman bin Auf: "Adakan walimah sekalipun dengan seekor kambing"

Dari Buraidah ia berkata: Ketika Ali melamar Fathimah, Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya harus, untuk pesta perkawinan ada walimah” (HR Ahmad)

Di dalam Islam, sangat dianjurkan mengadakan walimah sebagai syiar pernikahan. Sederhana pun tak apa. Seperti sabda Rasulullah SAW, sekalipun dengan seekor kambing. Mengapa? Hal tersebut dianjurkan agar nantinya tak akan timbul masalah. Nah loh, masalah apa lagi sih?

Ilustrasi: Seumpama ada yang menika saat duduk di bangku kuliah. Sebut saja mas A dan mbak B. Awalnya mereka beda kos (ya iyalah). Tetapi saat menikah mereka menjadi... tetap beda kos. Hehehehe. Hal itu dilakukan karena mau menghabiskan jatah kos setaun dulu. Pan rugi soalnya udah bayar 1 tahun *evil smile. Sang suami kalau mau berangkat kuliah selalu menghampiri sang istri yang notabene berjilbab lebar. Dijemput dan diboncengkan. Sang istri pegangan pinggang suami dengan mesra.

Apa yang akan dibayangkan orang, terutama jika yang melihat juga sama- sama berjilbab lebar. Pasti mereka akan melotot, mulut ternganga, jantung berdebar- debar, terus ngabarin temen yang lain, terus tabayyun (kroscek). Itupun jika langsung kroscek. Terkadang malah ada yang melalui tahap yang (paling) menyakitkan yakni digunjingkan. Malah jadi fitnah.

Kasian dong Mas A dan Mbak B. Iya dong pastinya. Nah, itu juga karena mereka nggak menyiarkan kabar bahagia tentang pernikahan mereka.

Ilustrasi lain: Mas C dan Mbak D dikenal sebagai dua sejoli di kampus. Mereka memutuskan untuk menikah diam- diam dahulu. Nggak berapa lama Mbak D hamil. Gemparlah seantero jagad perkampusan. Diam- diam banyak yang ngomongin (baca: nggunjingin) Mbak D. Ya tentang ia hamil lah, siapa bapaknya lah, sampai pekerjaan Mbak D dipertanyakan. Dikira disamping kuliah, Mbak D juga bekerja sebagai (maaf) PSK. Nah loh *tepok jidat tetangga. Padahal kan bapak dari janin yang dikandung Mbak D ialah suaminya sendiri, Mas C. Fitnah lagi yang berkembang.

Ilustrasi yang lain lagi: Pak E menikah dengan Bu F, dikaruniai anak yang bernama Mas G. Diam- diam Pak E juga menikah dengan Bu H. Dan diakruniai anak Mbak I. Bertahun- tahun berlalu. Kabar Pak E yang menikah lagi juga tak diketahui oleh Bu F (istri pertama) sampai anak beranjak dewasa. Mas G dan Mbak I ternyata kuliah di tempat yang sama. Mas G sebagai senior/kakak angkatan Mbak I. Pas ospek, mereka saling jatuh cinta. Mas G dan Mbak I memutuskan untuk menjalin kisah kasih mereka sebagai sepasang kekasih. Tiba- tiba ada hal yang tak diinginkan terjadi. Apakah itu? Jeng jeng... Mbak I hamil karena Mas G. Pusing lah mereka. Sampailah mereka pada pertemuan keluarga. Terkuaklah kenyataan yang sebenarnya. Mas G dan Mbak I sebenarnya adalah... SAUDARA!


Arrghhhh.....................................

CUT!!!!!!!!!!!!!
Maaf, cerita di atas hanya akting saja. Mohon maaf jika ada kesamaan kejadian, nama, maupun lokasi. Hehehe. Tapi nih, ada juga lho yang benar- benar terjadi di kehidupan nyata.

Jadi nih ya, syiarkan pernikahanmu kepada yang lainnya. Adakan walimah, meski sederhana. Karena sejatinya berita tentang pernikahan merupakan kabar gembira. Nggak mau kan ada fitnah yang terjadi kemudian. Atau ada gunjang- gunjing nggak jelas tentang kita. Dan kalau berita pernikahan disyiarkan tentu ada banyak do'a yang baik yang mengalir untuk keluarga yang baru dibangun. :)


Continue reading...

16/03/14

Yuuk Ber(jilbab)Hijab Syar'i



Ada yang tahu bedanya Jilbab dan Hijab?

Hijab menurut Al Quran artinya penutup secara umum, Alloh SWT dalam surah Al Ahzab ayat 53 memerintah kepada para shahabat Rosulullah pada waktu mereka meminta suatu barang pada istri Nabi agar memintanya dari balik hijab. Jadi, hijab bisa berupa tirai pembatas. Terkadang kata hijab dimaksudkan ya jilbab itu sendiri. Sedangkan makna lain dari hijab adalah sesuatu yg menutupi atau menghalangi dirinya. Hijab sendiri berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang menutupi sesuatu. Syaikh Al Bani rahimahullah mengatakan, “Setiap jilbab adalah hijab, tetapi tidak semua hijab itu jilbab, sebagaimana yang tampak.”

Bagaimana halnya dengan jilbab? Hal ini tertuang dalam perintah Alloh, surah Al-Ahzab ayat 59 “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…" Jilbab menurut standar Bahasa Arab berarti selendang, atau pakaian lebar yang dipakai wanita untuk menutupi kepada, dada dan bagian belakang tubuhnya. Jadi jilbab pada umumnya adalah pakaian yang lebar, longgar dan menutupi seluruh bagian tubuh. Sebagaimana disimpulkan oleh Al Qurthuby: “Jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh." Jadi jilbab sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.



Pertanyaannya, sudahkah sahabat putri sekalian mengenakan hijab? (jawab dalam hati masing- masing nggak papa..^^)
Jikalau belum, silakan bisa dibaca postingan saya sebelumnya ya. Semoga menjadi salah satu jalan untuk menggapai hidayah. :)
Di postingan kali ini, masih melanjutkan postingan yang sebelumnya yakni masih sama berbicara seputar hijab. 

Saat ini dimana- mana ada yang namanya video tutorial hijab, buku/majalah tutorial hijab, serta gambar wanita hijab warna- warni yang modelnya beraneka rupa. Sekarang pun sudah banyak ditemui wanita yang berhijab di tempat umum, di kampus, dan di mana saja. Beda banget ya kondisinya saat saya kecil dulu. Jarang sekali ditemui wanita yang berhijab. Kalaupun ada, hijabnya masih sederhana banget. Warnanya biasanya yang lembut seperti putih, putih tulang atau gelap seperti coklat, hitam, biru. Bahkan saya pernah dengar (mungkin saya pas belum lahir atau nggak ingat saja),  bahwa dulu sempat ada yang namanya pelarangan wanita untuk berjilbab terutama di instansi- instansi tertentu seperti di sekolah. Bersyukurlah kita sekarang, kondisinya sudah berlainan. Saat ini kebebasan wanita untuk mengenakan hijabnya sudah nggak dilihat aneh ataupun di larang- larang seperti yang lalu.

Akan tetapi, entah mengapa saat ini banyak wanita yang berhijab justru membuat saya terkadang sering merasa gelisah. Bukan karena saya jadi kalah cantik lho. Hehe. Esensi berjilbab kan bukan untuk cantik- cantikan. Senang karena saudari kita sudah menutup auratnya sih iya. Tapi jauh di lubuk hati saya yang terdalam (berapa meter yak dalamnya :D ), terdapat sebuah pertanyaan besar yang mungkin cukup sulit untuk dijawab.

Apakah niat kita dalam mengenakan hijab itu? Benar karena sudah mendapat hidayah Alloh atau hanya mengikuti tren fashion belaka yang membuat hijab menjadi semakin menarik? Ataukah karena banyak teman kita yang mengenakannya?

Kalau sudah menyangkut niat, silakan melihat ke dalam hati masing- masing.

Akan tetapi, yang hijabnya masih pendek atau belum seperti perintah berjilbab yang tertuang dalam Al- Qur'an, yuuk sedikit demi sedikit perbaiki hijabnya. Yang sudah berhijab syar'i semoga tetap istiqomah dan meluruskan niatnya kembali. Apa benar sudah murni melaksanakan kewajiban as muslimah. Jangan karena hijab yang kini berwarna warni dan bermacam modelnya itulah yang membuat kita berhijab. Kalau hanya seperti itu, kita hanya menuruti tren semata. Padahal tren itu cenderung berganti/beruah. Jangan sampai nih, ketika tren berhijab tergeser oleh tren yang lain, kita pun jadi meninggalkan hijab kita. Naudzubillaah.

Hati- hati dengan hijab punuk unta ya. Yang biasanya pakai cepol di kepala, mulai saat ini sebaiknya jangan lagi digunakan. Mengapa?


Pun begitu pula, yang sudah berhijab syar'i. Kembali lagi ke niat kita. Apakah berhijab syar'i nya kita benar- benar karena kesadaran akan kewajiban atau hanya sekedar mengikuti tren pula. Kalau begitu, kita tak ubahnya seperti  yang lainnya. Jangan sampai deh, berhijab syar'i tapi di lain waktu (misal saat endorse suatu produk) hijabnya ganti yang agak pendek. Atau berhijab syar'i tapi masih tabarruj (berdandan yang berlebihan). Banyak juga lho sekarang, jilbabnya sudah lebar, pakaian sudah longgar, tapi foto- foto cantiknya masih ada di berbagai sosial media. Foto dengan wajah yang cantik (dengan riasan yang menarik) juga bertebaran dimana- mana dan jadi pusat perhatian. Jadi sedih. Meski sudah berhijab syar'i, kita tetap harus menjaga diri ya. :(

Diri ini pun tak luput dari kesalahan. Saya mungkin juga pernah tak istiqomah ataupun seperti itu pula. Semoga tulisan ini juga menjadi suatu pengingat terutama untuk diri sendiri. Semoga kita terus berbenah menjadi pribadi yang baik lagi terutama dalam berhijab syar'i. Ingat, no tabarruj ya.
Continue reading...

14/03/14

Sesuatu yang Kebetulan itu Apakah Ada?


" Kebetulan kemarin aku baru ketemu dia lho..."
" Kebetulan banget ya, kamu ngasih aku hadiah ini. Dari dulu aku pengennn banget..."
" Kebetulan sekali, kita ketemu di sini..."
" Kebetulan aku lagi nggak punya uang... Muflis abis..."
"Ahhh, kebetulan banget ya soalnya susah..."
" Semua aku traktir... Kebetulan aku baru menang lomba..."
 "Kebetulan..........."

Sahabat sekalian pasti sering banget dengar atau mengatakan kebetulan, kebetulan, dan kebetulan. Jika mau menghitungnya, mungkin dalam satu hari sahabat sekalian sudah mengatakan kata ini berkali- kali. Entah dengan tanpa disadari atau tidak.
Tapi pernahkah sahabat sekalian berfikir, apa benar ini hanya kebetulan semata? Apa benar tidak ada suatu maksud mengapa kita dipertemukan dengan si A, diketemukan dengan suatu peristiwa, atau yang lainnya? Mengapa harus di saat itu? Mengapa dan Mengapa?

Pernahkah sahabat bertanya atau merenungi setiap "kebetulan" yang terjadi pada kita? Jikalau kita berfikir beberapa kejadian yang ada di sekitar kita itu merupakan kebetulan, lantas dimanakah campur tangan Alloh serta hukum sebab- akibat itu letaknya? Atau mungkin dari kita banyak yang berfikir bahwa sebagian peristiwa di sekitar kita terdiri dari tiga macam hal yakni sesuatu yang berkebetulan, karena sudah takdir Alloh, dan bersebab akibat. Lantas berapakah porsinya untuk masing- masing itu? Dapatkah kita menentukan dengan pasti prosentasenya?

Jika sahabat sekalian pernah membaca buku yang berjudul The Secret tentu akan familiar dengan hukum The Law of Attraction (Hukum tarik menarik). Inti dari hukum tersebut ialah apa yang kita pikirkan, itulah yang semesta berikan. Jadi segala hal yang terjadi pada kita itu disebabkan oleh pemikiran kita. Titik. 

Sudah?
Apakah cukup sampai disitu kalimatnya?

Ya, menurut buku itu, alam semesta akan memberikan apa yang kita fikirkan. Akan tetapi, saya meyakini bahwa tentu saja itu semua atas izin Alloh SWT. Jadi, bagi yang belum/ sudah membaca bukunya, memang sedikit banyak menimbulkan pertanyaan- pertanyaan maupun kontroversi. Akan tetapi semua kembali kepada kita, bagaimana cara kita memfilter setiap informasi yang kita dapatkan serta selalu mengembalikan pada kata "menurut Islam...".

Kembali lagi ke bahasan utama kita.
Jika kita melihat kata "kebetulan" dari sudut pandang seorang muslim, maka kita akan menyandarkannya pada Al- Qur'an. Berikut beberapa ayat yang memberikan penegasan bahwa tidak yang namanya kebetulan di dunia ini:

"Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS: Ad-Dukhan:38 – 39)

"Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz)" (QS: Al-Anaam:59 )

Merujuk dari dua ayat di atas, maka tidak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah ada masanya, sudah ada catatannya, dan sudah ada yang mengaturnya. Inilah sunatullah yang akan terus berlaku dan kesemuanya merupakan ketentuan Alloh. Semua kejadian bagi tiap manusia sudah termaktub di Lauhul Mahfudz. Jadi jelas sekali, tidak ada yang namanya kebetulan. Jika ada sesuatu hal yang tidak kita sangka, mulai sekarang jangan bilang kebetulan lagi ya. Hal itu merupakan kekeliruan. Gantilah kata kebetulan dengan Qodarullah. Karena segala sesuatunya sudah diatur oleh Alloh.

Dan lagi, jangan lupa tentang hukum sebab akibat (sekali lagi atas izin Alloh tentunya). Jika menanam bibit yang baik, tentunya akan memanen buah yang baik pula. Pun begitu dengan sebaliknya. Jika buruk bibit yang kita tanam, maka yang akan kita terima juga buruk hasilnya. Maka dari itu, apa- apa yang terjadi pada kita, itulah buah dari apa yang kita tanam. Entah akan kita tuai di dunia atau di akhirat. Tapi sekali lagi, kesemuanya merupakan atas izin Alloh.

Jadi jelas bukan, sandarkan segalanya pada Alloh semata. :)

Continue reading...

07/03/14

Ikhlaslah dalam Bersedekah





Bersedekah adalah salah satu dari syariat Islam yang mengandung nilai ibadah dan berfungsi sosial (muamalah). Bersedekah, berapapun jumlah yang disanggupi oleh si pemberi sedekah apabila diniatkan untuk menolong si penerima sedekah dan ikhlas dilakukan karena ALLAH Ta’ala memiliki beberapa keutamaan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 261:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan ALLAH adalah seperti menanam sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. ALLAH melipatgandakan bagi siapa yang IA kehendaki dan ALLAH Maha Pemurah dan Maha Mengetahui.”

Keutamaan lainnya disebutkan juga dalam ayat berikutnya:
“Orang yang menginfakkan hartanya di jalan ALLAH, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan orang yang menerima, mereka memperoleh pahala di sisi ALLAH. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula bersedih hati.”
Pada kedua ayat di atas dijelaskan tentang keutamaan yang sangat besar yang dijanjikan ALLAH bagi orang yang bersedekah dengan syarat sedekah yang ia berikan adalah ikhlas karena ALLAH Ta’ala, tidak menyebut-nyebutkan tentang sedekahnya pada orang lain dan tidak pula menyakiti hati si penerima dengan sindiran atau perkataan meskipun dimaksudkan untuk memberi nasihat dan peringatan kepada si penerima. Misalnya, sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari salah seorang karib kerabat yang kurang mampu yang datang meminta bantuan kepada kita. Meskipun dalam hati kita ikhlas memberikan bantuan atau sedekah kepadanya dan bermaksud hendak memotivasinya dengan memberikan nasihat seperti, “Makanya kamu harus kerja yang rajin, jangan hanya mengharapkan bantuan keluarga” atau “Lain kali saya tidak akan membantu apabila kamu masih malas bekerja,” maka kalimat-kalimat sedemikian sesungguhnya akan mengurangi nilai dari sedekah yang kita berikan karena tanpa kita sadari telah menyakiti hati si penerima sedekah.


Alloh ta’ala mengingatkan kita dalam firman-Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْداً لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir . “ (Al Baqarah:264)

Tiga Perbuatan Penghapus Pahala Sedekah

Dalam ayat di atas, Allah menjelasakan ada tiga perbuatan yang dapat menghapus pahala sedekah :
Pertama. Menyebut-nyebut pemberian sedekah. ( ِالْمَنِّ) al mann : maksudnya adalah menyebut-nyebut pemberian sedekah di hadapan orang yang diberi sedekah untuk menunjukkan kelebihan dirinya dibanding orang yang diberi sedekah tersebut.
Seperti misalnya si A memberikan sedekah kepada si B. Dia selalu menyebt-nyebut sedekah pemberiannya tersebut di hadapan si B. Seperti ini adalah termasuk perbuatan ( ِالْمَنِّ) al mann yang tercela seperti tersebut dalam ayat di atas. Perbuatan ini mencakup seluruh bentuk sedekah, baik itu sedekah terhadap teman, tetangga, kerabat, maupun istri dan anak-anaknya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
 ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ، ولا ينظر إليهم ، ولا يزكيهم ، ولهم عذاب أليم ، قال فقرأها رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث مرار . قال أبو ذر : خابوا وخسروا . من هم يا رسول الله ؟ قال : المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب
Ada tiga golongan, yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak akan Allah lihat, dan tidak akan Allah sucikan, serta baginya adzab yang pedih. Rasulullah mengulang sebanyak tiga kali. Abu Dzar bertanya : Siapa mereka wahai Rasulullah ? Sabda beliau : Al musbil (lelaki yang menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki, al mannaan (orang yang suka menyebut-nyebut sedekah pemberian), dan pedagang yang bersumpah dengan sumpah palsu” (H.R. Muslim:106)

Kedua. Menyakiti orang yang diberi sedekah. (َالَّذِي ) al adzaa: secara bahasa maknanya adalah setiap perbuatan yang merugikan atau menyakiti orang lain, baik dalam hal agamanya, kehormatannya, badannya, maupun hartanya. Adapaun (َالَّذِي ) al adzaa yang menghapus pahala sedekah yaitu bersikap sombong terhadap orang yang diberi sedekah dan menyakitinya dengan kalimat yang menyakitkannya, atau dengan sesuatu yang mencela kehormatannya dan merendahkan kemuliaan dan kedudukan orang tersebut.

Ketiga. Perbuatan riya’. ( الرياء ) ar riyaa’ : yakni perbuatan seorang hamba menampakkan amalnya kepada manusia karena ingin mendapat pujian. Jika seseorang riya’ dalam amalan sedekahnya maka akan menghapus pahala sedekah tersebut. Bahkan perbutan riya’ tidah hanya dalam masalah sedekah saja. Riya’ dapat terjadi pada setiap amal dan menghapus pahala amal tersebut. [Lihat Nidaa-atu ar Rahman li Ahlil iman 21-22, Syaikh Abu Bakr Al Jazaairy]
Imam Ibnu Katsir menjelasakan : “Dalam firman-Nya (لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى ) (janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)) Allah menerangkan bahwa pahala sedekah itu dapat hilang disebabkan karena menyebut-nyebut sedekah dan juga dengan tindakan menyakiti orang yang diberi sedekah.. Dosa menyebut-nyebut dan menyakiti itu menyebabkan hilangnya pahala sedekah. Kemudian Allah berfirman (كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ ) (), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia). Maksudnya, janganlah kalian membatalkan pahala sedekah kalian dengan menyebut-nyebut sedekah dan menyakiti orang yang diberi sedekah, sebagaimana tidak bernilainya sedekah orang yang riya’ karena manusia. Orang yang riya’ adalah yang menampakkan dihadapan orang lain bahwa dia ikhlas dalam beramal, padahal maksud sebenarnya adalah agar dia dipuji oleh orang lain. atau agar terkenal dengan sifat-sifat terpuji sehingga banyak orang yang mengaguminya, atau beramal agar disebut sebagai orang dermawan, atau maksud-maksud duniawi lainnya. Pelaku riya’ tidak memiliki perhatian untuk taat kepada Allah, mencari ridha-Nya dan mengharap pahala-Nya. Oleh karena itu, Allah berfirman (وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ) (dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian). ” [Lihat Tafsir al Quran al ‘Adzhim surat al Baqarah ayat 264, al Imam Ibnu Katsir]
Waspadailah saudaraku, ketiga perbuatan tersebut dapat merusak pahala sedekah yang kita lakukan.

Ancaman kepada Mereka Yang Suka Mengungkit Pemberian

1 - Tidak memperolehi ganjaran pahala sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah s.w.t. dalam firmannya,

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan penerima), mereka memperolehi pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhuwatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (al-Baqarah, 2: 262)

2 -Tidak diterima alasan dan tebusannya, sebagaimana Hadis Nabi s.a.w.,

“Tiga (3) orang yang Allah tidak menerima alasan dan tebusannya, iaitu anak yang derhaka kepada orang tua, orang yang mengungkit-ngungkit kebaikan dan orang-orang yang mendustakan Taqdir.” (Hadis Riwayat Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, 323. ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, 7547, dan lain-lain dari hadis abu Ummamah rdhiyallahu ‘anhu (r.a.). Sanadnya dihasankan oleh al-Mundziri dalam at-Targhiib wa at-Tarhiib, 3/321)

3 - Tidak akan di-ajak bicara, tidak melihat kepadanya dan tidak akan disucikan oleh Allah.

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w. bersabda,

“Tiga orang yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak pula Allah melihat kepada mereka dan juga tidak mensucikan mereka, serta bagi mereka azab yang pedih.”

Abu Hurairah berkata, “Beliau mengulanginya hingga tiga (3) kali”. Abu Dzarr berkata, “Sungguh merugi, siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Musbil (orang-orang yang berisbal iaitu yang melabuhkan pakaiannya melebihi mata kaki ke bawah (bagi lelaki)), orang yang mengungkit-ngungkit kebaikannya dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (Hadis Riwayat Muslim, 106)

4 - Diancam Tidak Masuk Syurga

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Tiga (3) orang yang tidak akan masuk syurga, “Anak yang derhaka kepada orang tuanya, orang yangterus-menerus minum khamar, dan orang yang mengungkit-ngungkit pemberiannya.” (Diriwayatkan oleh an-Nasa’i, 5/80-81, Ahmad, 2/134, al-Hakim, 4/146-147, al-Baihaqi, 8/288, al-Bazzar, 1875, dan selain mereka dari jalan Salim bin ‘Abdillah)
Continue reading...
 

Delicious Cupcakes Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
and web hosting