03/12/14

Yang Seiman Lebih Tenteram




Beberapa saat yang lalu berita yang sedang mencuat ialah kasus pernikahan dua orang artis yang berbeda keyakinan. Si pria (katanya) sudah masuk Islam sebelum menikah. Akan tetapi yang membuat heboh ialah setelah ia melangsungkan pernikahan, pria tersebut menyatakan bahwa dirinya tidak pernah masuk Islam. Nah loh, yang benar ini yang mana?

Disini saya tidak akan membahas beritanya. Berikut saya ambilkan petikan opini dari sebuah media cetak perihal pernikahan tersebut:

Memiliki suami yang berbeda keyakinan dengan kita (non-muslim) jelas dilarang oleh syariat. Bahkan pernikahan otomatis batal bila diketahui sang suami menjadi murtad (keluar dari Islam).
Alasan cinta tak lantas membutakan mata. Bagaimanapun, memilih lelaki yang beriman dan shalih merupakan syarat mutlak bagi seorang wanita dalam memilih suami.

Memang tak salah bila seorang muslimah meminta mahar berupa ikrar dua kalimat syahadat, bahkan hal tersebut merupakan kebaikan. Hal ini pernah dimintakan oleh Ummu Salamah ketika hendak dipinang oleh Abu Thalhah.

Namun pilihan tersebut, di zaman ini, bukan tanpa resiko. Sebab selamanya kita tidak akan bisa mengetahui pasti isi hati seseorang. Berhati- hatilah pula bisa saja itu jebakan untuk menyesatkan muslimah.


*)dari Ar- Risalah dengan sedikit gubahan


Jadi sahabat (terutama mba2) sekalian, urusan keyakinan tidak perlu di tawar2 lagi. Pilihlah yang seiman sebagai teman hidup anda. Karena yg seiman insyAlloh lebih menentramkan (seperti slogan apa gitu ya :) ).
Continue reading...

Pilih Calon Suami yang Kaya?? Silakan Dibaca...



pic source
Menarik untuk ditelisik profil si pria yang hendak menikahi calon istrinya. Empat jempol (plus jempol kaki saya. Hehe) saya acungkan untuk pria yang berani menikah dalam kondisi nol bahkan minus. Delapan jempol (minjam jempol tetangga) saya berikan pula untuk wanita yang mau- maunya menerima pria ini dalam keadaan ikhlas lillahi ta'ala (bukan pasrah lho). Mau menerima pinangan dan bersemangat menjalani kehidupan bersama dari bawah sekali. Jarang- jarang ada wanita yang mau memulai kisah awal kehidupan berumah tangga dari nol, berangkat dari ketidakpunyaan sang calon suami. Masih ada (mungkin juga cukup banyak) wanita di luar sana yang mau menerima calon suaminya apa adanya bukan karena ada apa- apanya.

Ini bukan curcol saya semata lho, wkwkwk, tetapi berangkat dari pengamatan saya kepada kawan2 yang lainnya.

Menurut hemat saya, memang lebih asiik dan menantang untuk memulai kehidupan awal dari nol. Bersama dengan istri membangun usaha, melalui jatuh bangun usaha, saling meyemangati dan bahu membahu dalam kehidupan berumah tangga. Alangkah indahnya ketika istri dengan mata berbinar- binar menerima rizki dari Alloh lewat usaha kita, yang ia tahu bahwa tidak setiap hari usaha suaminya berbuah manis. Bagaimana berhati- hatinya sang istri tersebut mengalokasikan dana, memangkas beberapa cabang pengeluaran, dan tak jarang menahan keinginan- keinginannya. Mula- mula berangkat dari kondisi ketidakpunyaan itulah, ketika nantinya pasangan tersebut sukses, maka kesuksesan yang mereka reguk bersama akan lebih terasa.

Jika saya kaitkan dengan kesetiaan (baik dari pihak suami maupun istri), biasanya jika dari awal sudah bersusah susah bersama, maka kesetiaannya (seharusnya) sudah terjamin. Apabila sang istri sudah mau dan berhasil 'dibawa' melalui fase- fase sulit, ketangguhannya sudah teruji. Alangkah 'bodoh'nya jika mereka bercerai. Atau mungkin justru pihak suami mendua/mentiga, dst. Ketika masa2 pahit kita lalui bersama istri tercinta, masak tega jika kita telah berhasil, kita tinggalkan/menduakan orang yang telah mendampingi kita di kala kesulitan2 menghampiri. Pun begitu pula dari pihak istri. Jika sudah mau diajak susah bersama suami dan mampu bertahan hingga berhasil, tak ayal kesetiaan sang istri pun seharusnya tak patut untuk dipertanyakan.

Nah, menarik jika sang calon suami ini sudah sukses duluan atau dengan kata lain sudah mapan sebelum menikah. Saya acungi empat jempol pula bagi yang sudah mempersiapkan diri (terutama dlm hal ekonomi) untuk mempersiapkan kehidupan berumah tangga bersama istrinya kelak. Minimal tak kan membiarkan keluarga terkatung- katung dalam ketidakpastian ekonomi keluarga. Hehe. Menarik pula melihat apa pertimbangan sang calon istri memilih suami yang tipe ini (mapan sebelum menikah). Apa semata hanya alasan asal kaya, kehidupan lebih terjamin, tidak perlu susah2?

Aih, memang kadang lebih banyak syak yang timbul pada calon istri yang memilih kita yang sudah mapan. Ada rasa was2 jikalau kita esok seandainya jatuh/gagal/bangkrut (semoga tidak), adakah ia masih setia mendampingi kita? Apakah ia masih disamping kita, menemani, dan tidak meninggalkan kita yang sedang 'kere' sekere-kerenya?

Dari hal itulah, saya membagi 2 kategori wanita yang lebih memilih pria mapan (bisa dibaca:kaya) untuk dijadikan suaminya:

1. Wanita baik2: alasan wanita tipe ini memilih pria mapan ialah kadang tak beralasan. (Maksudnya?). Maksudnya, mereka kadang memang langsung ketemu dengan calon yang memang mapan. Alias bejo. Bejo diketemukan dg calon suami yg mapan. Bukan sengaja milih yang mapan lho. Atau, mungkin mereka memang sengaja memilih yang mapan demi kehidupan calon anaknya kelak. Wanita tipe ini tidak neko2. Sudah tahu calon suaminya mapan/kaya, ia tidak memanfaatkannya alias tidak minta yang macam- macam. Apalagi sebelum nikah, mana berani minta dibeliin ini itu (padahal mungkin hanya barang murah).

2. Wanita tidak baik: alasan wanita tipe ini memilih calon suami yang mapan ialah demi dirinya, demi gengsi, atau demi harkat/martabat. Biasanya punya suami kaya/mapan buat songong-songongan. " Ini lho suamiku kaya, jabatannya Direktur di.. Punya mobil...". Nyombongnya bisa secara langsung/tidak langsung. Sombong baik2, tersirat, maupun sombong yang keterlaluan. Kalau mau lihat wanita seperti ini, lihat saja sebelum nikah, biasanya sudah berani banyak minta. Belum resmi jadi suami istri saja, sudah berani bilang "Mas,besok aku dibeliin gelang/hp/rumah itu ya.. Ya mas ya..", " Beliin itu dong mas.. ", "Besok pokoknya harus ada pembantu.." Atau lihat saja tongkrongannya sebelum nikah. Jika pakaiannya merk terkenal, dandanannya wah, perawatan ini itu, krim ini itu, dll, bisa dipastikan ini wanita tipe mahalll yang bisa menguras habis isi dompet. Nah, hati2, biasanya wanita yang seperti ini tidak tahan uji. Besok ketika sang suami bangkrut/miskin, biasanya wanita tipe seperti ini tidak tahan. Karena wanita yang seperti ini maunya yang enak2 saja seperti kondisi awal mereka berumah tangga.

Semoga pertimbangan para wanita yang memilih calon suami (baik calon suami yg belum mapan/sudah mapan) itu didasarkan pada pertimbangan yang baik2. Dan untuk para pria (sekali lagi, baik yg sudah mapan/belum mapan), hendaknya memilih istri yang baik2, enggak matrealistis.

_latihan nulis_
_dari mamas_
Continue reading...

ABG Jaman Sekarang


 Keadaan ABG jaman sekarang (* gak semua):

- Baju pas udah bagus-bagus dibeliin, malah make baju adeknya yang ketat -,-

- Status masih pelajar, tapi difacebook, udah bertunangan bahkan udah menikah

- Pacaran kalau ga panggil-panggilan ayah bunda, mama papa, ayank bebebh, gak asiik katanya. G sekalian aja almarhum almarhumah (*g bakalan berani ? )

- Kancing baju udah bagus-bagus 5 dicopotin 2, tinggal 3 alasannya 'gerah' (*banyak alasan!)
- Naik motor, kalau ga nempel pel pel ga gaholll. (*prettt)

- Alay menumpuk, nulis sms "siapa yang belum makan?" jadi "ch4v4 i4nk bLon mq4n?". Orang kayak begini ga akan masuk surga, masuknya ke culga


Nge-repost dari efbe misua yang juga nge-repost entah dari mana. :P
Continue reading...

Berhati- hati dengan Sifat Suka Membanggakan Diri Sendiri


pic source
Hati- hati dengan segala hal yang menyebabkan amalan- amalan yang sering kita lakukan menjadi sia- sia, serta pahala kita menjadi terhapus karenanya. Salah- salah malah membelenggu langkah ibadah kita. Salah satu hal itu ialah Ujub (bangga pada diri sendiri).

Boleh jadi kita dikaruniai kepahaman akan ilmu agama, kecerdasan, kecantikan/ketampanan, kekayaan, keshalihan, ketinggian derajat, kemahsyuran, dan beribu "kesempurnaan" yang lainnya. Kemudian kita terpesona atas apa yang kita peroleh itu. Bangga pada diri sendiri. Apalagi jika orang lain tahu (atau sengaja diberi tahu), agar mereka tahu dan kagum atas apa yang kita miliki itu. Dan lagi, dalam hati (meski kita mengingkari) muncul setitik perasaan ingin dinilai baik/istimewa oleh orang lain.

Ujub, meski itu teramat halus, tetaplah ujub. Entah itu dinampakkan dalam dunia nyata maupun dunia maya. Jika di dunia nyata, terlihat jelas bagaimana cara seorang yang berlaku ujub itu berbicara, berbusana atau berperilaku. Akan nampak oleh penglihatan kita. Ada pula yang halus, tidak nampak secara lahiriah, tapi ternyata di dalam hati ia telah berlaku ujub. Lantas bagaimana dengan dunia maya?

Hampir sama dengan di dunia nyata. Ada perilaku ujub yang terang- terangan atau yang sangat halus. Dalam dunia maya, meskipun hanya update status atau upload foto, kita perlu berhati-hati akan perasaan bangga akan diri sendiri. Seringkali update status tapi di dalamnya mungkin tersirat bahwa "ini lho saya itu shalih, saya itu punya rumah mewah, saya itu punya mobil, saya itu punya istri shalihah dan cantik, saya itu....... ". Itu baru yang tersirat.

Ada lagi yang terang- terangan bangga atas apa yang kita punya. Sering terlontar sanjungan akan diri/pasangan/keluarga, agar orang lain kagum. Atau sering pula apa yang kita miliki (yang membuat kita bangga) terpampang pada layar facebook/twitter agar setiap orang memberi komentar dengan takjub atau minimal memberi jempol.

Berhati- hatilah.
Jangan sampai ujub (bahkan yang tetamat halus pun) menggelincirkan kita.

Rosulullah SAW bersabda, "Adapun tiga hal yang membinasakan itu adalah kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujub (kekaguman) seseorang terhadap dirinya sendiri." (HR. Ath-Thabrani)

Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib: "Dan berhati-hatilah engkau dari sifat ujub dan berbangga kepada dirimu sendiri, dan percaya terhadap hal- hal yang membuatmu kagum dari padanya serta cinta menampakkan diri, karena hal itu adalah merupakan kesempatan yang paling baik bagi setan dengan dirinya untuk menghapuskan segala perbuatan- perbuatan atau kebaikan- kebaikan orang yang berbuat baik"

Wallahu a'lam bish-shawab.

.:: Ahh, duhai diri yang masih perlu banyak belajar ::.
Continue reading...

Stay ISTIQOMAH



Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra : Rasulullah Saw pernah bersabda, “perbuatan yang engkau lakukan tidak akan menyelamatkan engkau dari api neraka”, mereka berkata, “bahkan engkau sendiri ya Rasulullah?” Nabi Muhammad Saw bersabda, “bahkan aku sendiri, kecuali Allah melindungiku dengan kasih dan rahmatNya. Oleh karena itu lakukanlah perbuatan baik sepatut mungkin, setulus mungkin, sedapat mungkin dan beribadahlah kepada Allah pada pagi dan sore hari, pada sebagian dari malam hari dan bersikaplah al-qashd (mengambil pertengahan dan melaksanakannnya secara tetap) karena dengan cara itulah kamu akan mencapai (surga)”.

Diriwayatkan dari Aisyah ra : seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, “apakah amal (ibadah) yang paling dicintai Allah?” Nabi Muhammad Saw bersabda,” amal (ibadah) yang dilakukan secara tetap meskipun sedikit”

I.S.T.I.Q.O.M.A.H

Semangat teman ^^
Continue reading...

Tes Wawancara Kerja Ternyata Susah Ya


pic source

Ahaiii, aku nongol lagi ya.. Di bulan Desember yang notabene dingin ini, kita pasti butuh yang anget anget alias kehangatan *apasih*

Ini aku kasih cerita ya. Semoga bermanfaat bagi yang mau melalui wawancara kerja..

G : Kowe nduwe omah opo ora.....?
a : dereng....
G : Wah kowe ora iso ketompo nang kene
a : Lho kok ngaten........?
G : Mengko kowe mesthi ngajukne utang nang perusahaan.
a : Ah.. mboten kok, Sak janipun tiyang sepuh kulo niku sampun sugih.
G : Yo malah ora ketompo
a : Lho kok ngaten.....?
G : Mengko kowe kerjo mung nggo hiburan, nongkrang nongkrong wae, catting terus
G : Kowe nduwe motor opo ora....?
a : Mboten.
G : Ora ketompo
a : Lho kok mboten ketompo ?
G : Mengko kowe mesthi njaluk bantuan kredit.
a : Sak janipun gadhah, ning tasih ten kampung, gampil mangke kulo beto ngriki.
G : Wah malah ra ketompo....
a : lho kok ngoten
G : Tempat parkire wis ra cukup.
G : Kowé wis lulus sarjana tenan.....?
a : sampun pak....
G : Ora ketompo, kéné iki golék sing SMA aé, luwih manutan lan bén mbayaré murah
a : Sak janipun kulo tasih badhe skripsi
G : Malah ora ketompo.....
a : Lho kados pundi to....?
G : Mengko kowé kerjo mung ngetik skripsi, lék wis lulus mesti golék kerjo neng perusahaan liyo.
G : Kowé seneng guyon opo ora ?
a : Mboten pak, kulo serius nék nyambut gawé.
G: Ra ketompo.....
a : waa......kok ngoten?
G : Engko konco koncomu lan anak buahmu podho stress.
a : Sak jané nggih sekedhik sekedhik seneng guyon.
G: Malah ora ketompo.
a : Lho kok......
G: Engko kowé mung gaweane update status sing lucu.......
G : Kowé mau mréné numpak opo ?
a : Nitih mobil
G : Kowé ora ketompo
a : Sebabipun ?
G : Saiki BBM mundhak terus, mengko kowé njaluk mundhak bayar terus
a : Wo, kulo wau namung nunut, kok
G : Tambah ora ketompo
a : Lho, lha kok ... ?
G : Mengko mung gawéné nunut mobil kantor. Ngrusuhi!
G : Anakmu akèh opo sithik ?
a : Kathah pak
G : Kowé ora ketompo
a : Sebabipun ?
G : Nyambut gawemu ora jenjem, mung mikir gawe uanaaaaaak terus
a : Lha wong namung anak adopsi, kok.
G : Tambah ora ketompo
a : Lho, lha kok ... ?
G : Gawé anak baé aras2en, opo manèh nyambut gawé
G : Kowé wis ngerti gawéyanmu durung ?
a : Dèrèng
G : Kowé ora ketompo
a : Sebabipun ?
G : Arep nyambut gawé kok ora ngerti gaweyané ?
a : Oo, nèk damelan niku mpun ngertos kok
G : Tambah ora ketompo
a : Lho, lha kok ... ?
G : Kowé rak mung arep keminter, to ?
G : Kowe ngerti kahanan kantor kéné durung
a : Dèrèng
G : Kowé ora ketompo
a : Sebabipun ?
G : Arep nyambut gawé kok ora ngerti kantoré ?
a : Wo, sekedhik2 sampun ngertos kok
G : Tambah ora ketompo
a : Lho, lha kok ... ?
G : Kowé senengané ngudhal-udhal wewadi kantor, to ?
G : Kowé kerep loro ?
a : Mboten
G : Kowé ora ketompo
a : Sebabipun ?
G : Mesthi kerep mbolos, wong arang2 gering
a : Wah, sakjanipun nggih asring
G : Tambah ora ketompo
a : Lho, lha kok ... ?
G : Kantor iki ora nompo karyawan pileren.
G : Kowé biso main Internét ?
a : mBoten
G : Kowé ora ketompo
a : Sebabipun ?
G : Perusahaan ora nompo BI(Buta Internet)
a : Wah, sakjanipun nggih saged
G : Tambah ora ketompo
a : Lho, lha kok ... ?
G : Mesthi ora bakal nyambut gawé, kakèhan dolanan Internet, to? Ngenték- entekké pulsa
G : Kowe waras opo ora?
a : Lha, kulo nggih waras to Pak.
G : Ra ketompo.......
a : Kenging nopo .....?
G : Mengko kowe mesthi ora krasan neng kene.
a : Niku rumiyin Pak, sakmeniko sampun rodo edan.
G : Malah ra ketompo......
a : Pripun to niki....?
G : Mengko aku duwe saingan.........


Naitu, sekian apa ya, tips mungkin ya, tentang wawancara kerja.
Hihihi. 'Bermanfaat' banget kan.
Semoga iya deh.
Bermanfaat buat bikin ketawa dan hangat badan. ;)

psstt, itu copas status misua yang udah dari jaman purba, jangan bilang- bilang ya.. :D
Continue reading...

02/12/14

Ini (bukan) Sinetron: Suamiku bukan Suamiku


pic source *ngalay dikit ah gambarnya*
Alkisah suatu malam tanggal x bulan y tahun zzzz, gue belanja di minimarket yang diwaralaba-in dimana- mana. Sebut saja ia Minimarket Mawar. Tentu aja belanja belenjinya ditemenin bareng suami gue yang ganteng sekuteng tiada tara harum mewangi syalalalalala. Mhihihi.
*ada efek bunga- bunga di sekitar suami gue and gue lagi kibas- kibas buntut kuda poni*
*apaan sih*

Gue pilih- pilih barang. Lalu antri dengan suami depan kasir. Setelah bayar, gue pun ngeloyor keluar minimarket persis di belakang suami. Gue buntutin terus dia. Kami terus berjalan, terus, terus, dan terus sampai dia masuk selokan.
Bzzz,, stop, stop. Salah!
Maksudnya gue sama suami jalan terus sampai di depan minimarket.

Lagi romantis- romantisnya jalan berdua bareng suami *ada latar menara Eifel di belakang dan backsound diobok- obok airnya, emmm... bukan, ada backsound something stupid*
Tiba- tiba...
"May.. Umay.."

Gue pun melihat ke sumber suara.

Eh, siape tu.
Ada suara cempreng seksi teriak- teriak. Gue pun memperhatikan dengan seksama.

Apaaa??!!
*jeng- jeng... muka cantik gue, gue deketin ke kamera trus selfie*

Itu... suami gue.
Ya... suami gue.
S-U-A-M-I G-U-E.

Suami gue yang manggil gue dari kejauhan nampak bingung. Apalagi gue *garuk- garuk kepala, makan kacang trus hhaahahuhukk ganti garuk ketek*

Jadi, jadi, yang gue buntutin sedari tadi tuh siapa??
Gue pun mendongak. Ishh, siape sih lo?
*batin gue memberontak*
*gue menatap tajam ke kamera yang ngezoom muka gue dan berkata dalam hati*
Ah, dia rupanya berniat menculikku. Dia terpesona pada kecantikanku.
*cari kambing hitam*

Padahal.. siapa buntutin siapa. Dia-yang-gue-buntutin lalu mesen martabak. Ah, mau nih martabaknya. Dengan malu, gue menghampiri suami gue yang ASLI.

Untung dia-yang-gue-buntutin itu nggak ngeh kalau dari tadi diikutin anak kucing yang lucu-lucunya (baca:gue).

Suami gue ngekek, "Lo ngapain may.."
"Hiks.. anu.. Umay kira itu Abay.." 
"Gue kan nggak botak May.. Lagian gue udah keluar duluan tadi..Buahahahaha.."
*Adududu, syudah dong ketawanya, malu nih*

Lalu gue and suami gue yang ASLI (catet, ASLI) langsung cabut dari sana. 


***** END aja deh, daripada diketawain mulu -_- *****


PS: nyumbang ide dong pembaca. Mau tak jadiin judul sinetron ni *aseek*. Suamiku bukan Suamiku, Suami yang Tertukar, atau Suami Tandingan :P
Continue reading...
 

Delicious Cupcakes Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
and web hosting